Senin, 08 Oktober 2012

SKRIPSI "BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN"


BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Penelitian
1.         Gambaran wilayah penelitian
Rumah Sakit Umum Daerah Undata Palu berdiri sejak tanggal 7 Agustus 1972, berlokasi di pesisir teluk Palu, berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Propinsi Sulawesi Tengah No. 59/DH.TAP/1972, dan diberi nama UNDATA yang memiliki arti Obat Kita. Kata ini sekaligus bermakna tentang layanan kesehatan dalam cakupan bersifat prefentif, kuratif, dan rehabilitatif pada tatanan kebersamaan “Mosangu Mosipakabelo”.
Diawal kelahirannya, RSUD Undata diawaki oleh 1 dokter spesialis, 4 dokter umum dengan kapasitas tempat tidur 90 orang dan sejumlah tenaga perawat, non perawat dan tanaga non medis.
Sesuai SK. menteri Kesehatan No. 93/Menkes/SK/1995, RSUD Undata berubah dari kelas RS Type C menjadi kelas Type B Non Pendidikan dalam lingkup tugas dan fungsi diatur melalui Perda No. 2 Tahun 2003 tanggal 20 Maret 2003.

Dari awal perjalanannya hingga kini, RSUD Undata telah dipimpin oleh 6 Direktur yang telah mewarnai sepanjang perjalanan RSUD Undata sampai saat ini.
Orientasi rumah sakit ke depan berdasarkan UU No. 1 Tahun 2004 yang diimplementasikan ke dalam Permendagri No. 61 tahun 2007 tentang Pedoman Rumah Sakit sebagai Badan Layanan Umum Daerah yang lebih mengoptimalkan peningkatan layanan mutu yang lebih berkualitas kepada masyarakat. 
a.      Tanah dan Gedung
Hingga akhir tahun 2009, RSUD Undata telah memiliki 2 (dua) lokasi rumah sakit. Lokasi pertama terletak di jalan dr. suharso no. 14 palu, yang memiliki luas tanah sekitar 41.067 M2 (undata lama). Gedung perawatan rawat inap sebanyak 16 ruangan dengan kapasitas 329 tempat tidur. 14 ruangan instalasi penunjang perawatan. Lokasi kedua terletak di jalan trans Sulawesi tonda. Memiliki luas sekitar 60 M2 fasilitas pelayanan yang telah ada yaitu:
1)      16 ruangan ruangan klinik pelayanan rawat jalan
2)      Gedung administrasi
3)      Gedung instalasi, gawat darurat dan instalasi bedah sentral
4)      Gedung rawat inap bertingkat kapasitas 62 tempat tidur
5)      Gedung rawat inap klas III bertingkat dengan kapasitas 128 tempat tidur.
Gedung yang di rencanakan untuk tahun kedepan sesuai master plan yaitu:
a.       Gedung rawat klas I dan VIP
b.      Gedung instalasi perawatan insentif (ICU/ICCU)
c.       Gedung medikal chek Up (laboratorium dan rontgen)
d.      Gedung instalasi medik
e.       Gedung instalasi farmasi
f.       Gedung obstetric dan ginekology
g.      Gedung instalasi gizi
h.      Gedung instalasi laundry
i.        Gedung kamar jenazah
j.        Gedung instalasi pengelolaan air limbah
b.      Ketenagaan
1.      Tenaga medis
Dokter ahli terdiri dari:
a)      Dokter ahli THT                                                     : 1 orang
b)      Dokter ahli penyakit dalam                                    : 3 orang
c)      Dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan    : 4 orang
d)     Dokter ahli penyakit anak                                       : 4 orang
e)      Dokter ahli bedah                                                   : 4 orang
f)       Dokter ahli anestesi                                                : 3 orang
g)      Dokter ahli bedah mulut                                         : 1 orang
h)      Dokter ahli penyakit mata                                      : 1 orang
i)        Dokter ahli penyakit syaraf                                    : 2 orang
j)        Dokter ahli penyakit jantung                                  : 1 orang
k)      Dokter ahli penyakit kulit dan kelamin                  : 2 orang
l)        Dokter ahli radiologi (rontgen)                               : 2 orang
m)    Dokter ahli patologi klinik                                      : 1 orang
n)      Dokter magister (M.Kes)                                        : 4 orang
o)      Dokter DTMH (S2)                                                : 1 orang
p)      Dokter umum                                                          :24 orang
q)      Dokter gigi                                                              : 5 orang
2.      Tenaga paramedik terdiri dari                                     
a)      Tenaga perawat
b)      Tenaga paramedik non perawat
c)      Tenaga administrasi
d)     Jumlah tenaga PNS
e)      Tenaga calon PNS
f)       Tenaga honorer, kontrak, sukarela dan satpam
: 289 orang
: 105 orang
: 172 orang
: 630 orang
: 51   orang
: 205 orang

c.       Jenis pelayanan
RSUD Undata Palu menyediakan sebanyak 16 jenis pelayanan, sebagai berikut:
1)      Instalasi rawat jalan
2)      Instalasi rawat darurat
3)      Instalasi rawat inap
4)      Instalasi radiologi
5)      Instalasi laboratorium
6)      Instalasi ICU/ICCVU
7)      Instalasi bedah sentral
8)      Instalasi rehabilitasi medic

9)           Instalasi gizi
10)       Instalasi farmasi
11)       Instalasi pemeliharaan sarana
12)       Instalasi laundry
13)       Instalasi sentral sterilisasi
14)       Instalasi sanitasi
15)       Instalasi pemulasaran jenazah
16)       Unit pelayanan hemodialisa

2.         Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan dalam penelitian ini untuk melihat distribusi frekuensi dari setiap variable independen dan variable dependen yang terdiri dari variable bebas yaitu kehandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan bentuk fisik serta variable dependen yaitu kepuasan pasien.
Dari hasil wawancara dengan menggunakan alat ukur kuesioner, didapatkan presentase sebagai berikut:

Tabel 5.1
Distribusi Frequensi Tingkat Kehandalan Pelayanan Kesehatan
Di Ruang Perawatan Kelas III RSUD Undata Palu
Tahun 2012
NO
KEHANDALAN
JUMLAH
%
1
Rendah
33
34.4 %
2
Tinggi
63
65.6 %
Total
96
100 %
Sumber: Data Primer 2012

Pada tabel 5.1 diatas dapat diketahui distribusi frequensi tingkat kehandalan pelayanan kesehatan di ruang perawatan kelas III RUSD Undata Palu.  dari 96 jumlah responden, presentase responden yang menyatakan kehandalan pelayanan rendah adalah sebanyak 33 (34.4%) responden, sedangkan responden yang menyatakan tinggi adalah berjumlah 63 (65.6%) responden.







Tabel 5.2
Distribusi Frequensi Tingkat Jaminan Pelayanan Kesehatan
Di Ruang Perawatan Kelas III RSUD Undata Palu
Tahun 2012
NO
JAMINAN
JUMLAH
%
1
Rendah
38
39.6 %
2
Tinggi
58
60.4 %
Total
96
100 %
Sumber: Data Primer 2012

Pada tabel 5.2 diatas dapat diketahui distribusi frequensi tingkat kehandalan pelayanan kesehatan di ruang perawatan kelas III RUSD Undata Palu.  dari 96 jumlah responden, presentase responden yang menyatakan jaminan pelayanan rendah adalah sebanyak 37 (38.5%) responden, sedangkan responden yang menyatakan tinggi adalah berjumlah 59 (61.5%) responden.
Tabel 5.3
Distribusi Frequensi Tingkat Bentuk Fisik Pelayanan Kesehatan
Di Ruang Perawatan Kelas III RSUD Undata Palu
Tahun 2012
NO
BENTUK FISIK
JUMLAH
%
1
Rendah
40
41.7 %
2
Tinggi
56
58.3 %
Total
96
100 %
Sumber: Data Primer 2012
                                                                               

Pada tabel 5.3 diatas dapat diketahui distribusi frequensi tingkat kehandalan pelayanan kesehatan di ruang perawatan kelas III RUSD Undata Palu.  dari 96 jumlah responden, presentase responden yang menyatakan jaminan pelayanan rendah adalah sebanyak 40 (41.7%) responden, sedangkan responden yang menyatakan tinggi adalah berjumlah 56 (58.3%) responden.
Tabel 5.4
Distribusi Frequensi Empati Pelayanan Kesehatan
Di Ruang Perawatan Kelas III RSUD Undata Palu
Tahun 2012
NO
EMPATI
JUMLAH
%
1
Rendah
47
49 %
2
Tinggi
49
51%
Total
96
100 %
Sumber: Data Primer 2012

                Pada tabel 5.4 diatas dapat diketahui distribusi frequensi tingkat empati pelayanan kesehatan di ruang perawatan kelas III RUSD Undata Palu.  dari 96 jumlah responden, presentase responden yang menyatakan empati pelayanan rendah adalah sebanyak 46 (47.9%) responden, sedangkan responden yang menyatakan tinggi adalah berjumlah 50 (52.1%) responden.









Tabel 5.5
Distribusi Frequensi Tingkat Daya Tanggap Pelayanan Kesehatan
Di Ruang Perawatan Kelas III RSUD Undata Palu
Tahun 2012
NO
DAYA TANGGAP
JUMLAH
%
1
Rendah
43
44.8 %
2
Tinggi
53
55.2 %
Total
96
100 %
Sumber: Data Primer 2012
                                                                          

Pada tabel 5.5 diatas dapat diketahui distribusi frequensi daya tanggap pelayanan kesehatan di ruang perawatan kelas III RUSD Undata Palu.  dari 96 jumlah responden, presentase responden yang menyatakan daya tanggap pelayanan rendah adalah sebanyak 43 (44.8%) responden, sedangkan responden yang menyatakan tinggi adalah berjumlah 53 (55.2%) responden.
Tabel 5.6
Distribusi Frequensi Tingkat Kepuasan Pasien
Di Ruang Perawatan Kelas III RSUD Undata Palu
Tahun 2012
NO
KEPUASAN
JUMLAH
%
1
Tidak Puas
41
42.7 %
2
Puas
55
57.3 %
Total
96
100 %
Sumber: Data Primer 2012

Pada tabel 5.6 diatas dapat diketahui distribusi frequensi tingkat kepuasan pasien di ruang perawatan kelas III RUSD Undata Palu.  dari 96 jumlah responden, presentase responden yang menyatakan tidak puas adalah sebanyak 41 (42.7%) responden, sedangkan responden yang menyatakan puas adalah berjumlah 55 (57.3%) responden.

3.         Hasil Bivariat
Tujuan dari analisis bivariat adalah untuk melihat kemaknaan hubungan antara variable independen yaitu kehandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan bentuk fisik dan variable dependen yaitu kepuasan pasien. Dalam penelitian ini digunakan uji Chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% dan nilai kemaknaan 0,05.
a.      Hubungan kehandalan dengan kepuasan pasien
Untuk mengetahui hubungan antara kehandalan dengan kepuasan pasien dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 5.7
Distribusi Responden Menurut Hubungan Kehandalan Pelayanan Kesehatan Dengan Kepuasan Pasien Rawat Inap Pengguna Jamkesmas
Di ruang Perawatan Kelas III RSUD Undata Palu
Tahun 2012

KEHANDALAN
KEPUASAN
Total
P
Value
Tidak Puas
Puas
n
%
n
%
n
%
Rendah
30
90.9
3
9.1
33
100
0,000
Tinggi
11
17.5
52
82.5
63
100
Total
41
42.7
55
57.3
96
100
Sumber: Data Primer 2012

Berdasarkan tabel 5.7 menunjukan bahwa dari 33 responden menyatakan kehandalan rendah, 30 (90.9%) responden menyatakan tidak puas dan 3 (9.1%) responden menyatakan puas. Sedangkan dari 63 responden menyatakan kehandalan tinggi, 11 (17.5%) responden menyatakan tidak puas dan 52 (82.5%) responden menyatakan puas.
Berdasarkan hasil uji Chi-Square dengan nilai p = 0,000 (p value < 0,05) maka Ho pada penelitian ini lebih kecil dari tingkat kemaknaan 5% sehingga Ho ditolak artinya bahwa ada hubungan bermakna antara kehandalan pelayanan dengan kepuasan pasien rawat inap pengguna jamkesmas di ruang perawatan kelas III RSUD Undata Palu pada tahun 2012.
b.      Hubungan jaminan dengan kepuasan pasien
Untuk mengetahui hubungan antara jaminan dengan kepuasan pasien dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5.8
Distribusi Responden Menurut Hubungan Jaminan Pelayanan Kesehatan Dengan Kepuasan Pasien Rawat Inap Pengguna Jamkesmas
Di ruang Perawatan Kelas III RSUD Undata Palu
Tahun 2012

JAMINAN
KEPUASAN
Total
P
Value
Tidak Puas
Puas
n
%
n
%
n
%
Rendah
27
71.1
11
28.9
38
100
0,000
Tinggi
14
24.1
44
75.9
58
100
Total
41
42.7
55
57.3
96
100
Sumber: Data Primer 2012

Berdasarkan tabel 5.8 menunjukan bahwa dari 38 responden menyatakan jaminan rendah, 27 (71.1%) responden tidak puas dan 11 (28.9%) responden menyatakan puas. Sedangkan dari 58 responden menyatakan jaminan tinggi, 14 (24.1%) responden menyatakan tidak puas dan 44 (75.9%) responden menyatakan puas.
Berdasarkan hasil uji Chi-Square dengan nilai p = 0,000 (p value < 0,05) maka Ho pada penelitian ini lebih kecil dari tingkat kemaknaan 5% sehingga Ho ditolak artinya bahwa ada hubungan bermakna antara jaminan pelayanan dengan kepuasan pasien rawat inap pengguna jamkesmas di ruang perawatan kelas III RSUD Undata Palu pada tahun 2012.
c.       Hubungan bentuk fisik dengan kepuasan pasien
Untuk mengetahui hubungan antara bentuk fisik dengan kepuasan pasien dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5.9
Distribusi Responden Menurut Hubungan Bentuk Fisik Pelayanan Kesehatan Dengan Kepuasan Pasien Rawat Inap Pengguna Jamkesmas
Di ruang Perawatan Kelas III RSUD Undata Palu
Tahun 2012

BENTUK FISIK
KEPUASAN
Total
P
Value
Tidak Puas
Puas
n
%
n
%
n
%
Rendah
28
70.0
12
30.0
40
100
0,000
Tinggi
13
23.2
43
76.8
56
100
Total
41
42.7
55
57.3
96
100
Sumber: Data Primer 2012

Berdasarkan tabel 5.9 menunjukan bahwa dari 40 responden menyatakan bentuk fisik rendah, 28 (70.0%) responden menyatakan tidak puas dan 12 (30.0%) responden menyatakan puas. Sedangkan dari 56 responden menyatakan bentuk fisik tinggi, 13 (23.2%) responden menyatakan tidak puas dan 43 (76.8%) responden menyatakan puas.
Berdasarkan hasil uji Chi-Square dengan nilai p = 0,000 (p value < 0,05) maka Ho pada penelitian ini lebih kecil dari tingkat kemaknaan 5% sehingga Ho ditolak artinya bahwa ada hubungan bermakna antara bentuk fisik pelayanan dengan kepuasan pasien rawat inap pengguna jamkesmas di ruang perawatan kelas III RSUD Undata Palu pada tahun 2012.
d.      Hubungan empati dengan kepuasan pasien
Untuk mengetahui hubungan antara empati dengan kepuasan pasien dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5.10
Distribusi Responden Menurut Hubungan Empati Pelayanan Kesehatan Dengan Kepuasan Pasien Rawat Inap Pengguna Jamkesmas
Di ruang Perawatan Kelas III RSUD Undata Palu
Tahun 2012

EMPATI
KEPUASAN
Total
P
Value
Tidak Puas
Puas
n
%
n
%
n
%
Rendah
31
66.0
16
34.0
47
100
0,000
Tinggi
10
20.4
39
79.6
49
100
Total
41
42.7
55
57.3
96
100
Sumber: Data Primer 2012

Berdasarkan tabel 5.10 menunjukan bahwa dari 47 responden menyatakan empati rendah, 31 (66.0%) responden menyatakan tidak puas dan 16 (34.0%) responden menyatakan puas. Sedangkan dari 49 responden menyatakan empati tinggi, 10 (20.4%) responden menyatakan tidak puas dan 39 (79.6%) responden menyatakan puas.
Berdasarkan hasil uji Chi-Square dengan nilai p = 0,000 (p value < 0,05) maka Ho pada penelitian ini lebih kecil dari tingkat kemaknaan 5% sehingga Ho ditolak artinya bahwa ada hubungan bermakna antara empati atau kepedulian dengan kepuasan pasien rawat inap pengguna jamkesmas di ruang perawatan kelas III RSUD Undata Palu pada tahun 2012.
e.       Hubungan daya tanggap dengan kepuasan pasien
Untuk mengetahui hubungan antara ketanggapan dengan kepuasan masyarakat dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5.11
Distribusi Responden Menurut Hubungan Daya Tanggap Pelayanan Kesehatan Dengan Kepuasan Pasien Rawat Inap Pengguna Jamkesmas
Di ruang Perawatan Kelas III RSUD Undata Palu
Tahun 2012

DAYA TANGGAP
KEPUASAN
Total
P
Value
Tidak Puas
Puas
N
%
n
%
n
%
Rendah
29
67.4
14
32.6
43
100
0,000
Tinggi
12
22.6
41
77.4
53
100
Total
41
42.7
55
57.3
96
100
Sumber: Data Primer 2012

Berdasarkan tabel 5.11 menunjukan bahwa dari 43 responden menyatakan daya tanggap rendah, 29 (67.4%) responden menyatakan tidak puas dan 14 (32.6%) responden menyatakan puas. Sedangkan dari 53 responden menyatakan daya tanggap tinggi, 12 (22.6%) responden menyatakan tidak puas dan 41 (77.4%) responden menyatakan puas.
Berdasarkan hasil uji Chi-Square dengan nilai p = 0,000 (p value < 0,05) maka Ho pada penelitian ini lebih kecil dari tingkat kemaknaan 5% sehingga Ho ditolak artinya bahwa ada hubungan bermakna antara daya tanggap atau ketanggapan dengan kepuasan pasien rawat inap pengguna jamkesmas di ruang perawatan kelas III RSUD Undata Palu pada tahun 2012.
B.     Pembahasan
1.      Hubungan Kehandalan Dengan Kepuasan Pasien
Hubungan antara kehandalan dengan kepuasan pasien dengan menggunakan uji Chi-Square.
Dari tabel yang ada menunjukan terdapat hubungan antara dimensi kehandalan responden dengan kepuasan pasien Jamkesmas rawat inap dengan nilai p = 0,000 < 0,05. Dalam dimensi kehandalan diwakili 3 item pertanyaan dalam bentuk kuesioner. Pada pertanyaan item 1 mengenai ketepatan jam buka pelayanan loket menunjukan bahwa 25 (26%) responden menyatakan tidak puas dan 71 (74%) responden menyatakan puas. Hal ini harus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan oleh pihak rumah sakit. Pertanyaan pada item kedua yaitu tentang ketepatan waktu pemeriksaan yang menunjukan 7 (7.3%) responden menyatakan tidak puas dan 89 (92.7%) responden menyatakan puas, sebab mereka menginginkan proses pemeriksaan yang cepat, Pertanyaan kuesioner pada item tiga tentang pemberian obat dalam waktu tiga hari 19 (19.8%) responden menyatakan tidak puas dan 77 (80.2%) responden menyatakan puas. Secara keseluruhan hasil penelitian ini menunjukan bahwa responden merasa puas dengan kehandalan yang diberikan petugas rumah sakit dalam memberikan pelayanan.
Melihat hasil penelitian tersebut peneliti berpendapat bahwa kehandalan pelayanan yang diberikan mengenai ketepatan jam buka pelayanan loket, ketepatan dokter/perawat untuk memeriksa dan pemberian obat untuk waktu tiga hari di Rumah Sakit Umum Daerah Undata Palu dijalankan dengan baik sehingga pasien merasa puas atau senang terhadap pelayanan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurul Fatimah R. Mangge (2010), Ada hubungan bermakna antara kehandalan dengan kepuasan pasien. Dari 96 sampel, 49 responden yang menyatakan tidak puas dan 47 responden yang menyatakan puas.
Menurut Ihwan. A, 2002 (Dalam Nurul Fatimah R. Mangge, 2010) sekitar 60% dari keluhan konsumen yang menerima pelayanan ditempat kesehatan dikarenakan kurang puas dari aspek kehandalan: konsumen mengeluh karena pemberi jasa tidak menepati janjinya dan melakukan kesalahan dalam memberikan pelayanan.
2.      Hubungan Jaminan Pelayanan Kesehatan Dengan Kepuasan Pasien
Hubungan antara jaminan dengan kepuasan pasien dengan menggunakan uji Chi-Square.
Dari tabel yang ada menunjukan terdapat hubungan antara dimensi jaminan responden dengan kepuasan pasien Jamkesmas rawat inap dengan nilai p = 0,000 < 0,05. Dalam dimensi jaminan diwakili 4 item pertanyaan dalam bentuk kuesioner. Kuesioner jaminan pada item 1 mengenai pemberian informasi yang diberikan oleh petugas loket menunjukan 38 (39.6%) responden menyatakan tidak puas dan 58 (60.4%) responden menyatakan puas. Hal ini harus mendapat perhatian pihak rumah sakit khususnya petugas pelayanan loket agar dalam pemberian informasi kepada pasien diusahakan memberikan informasi dengan jelas, menggunakan bahasa yang sederhana mudah dimengerti oleh pasien sebab penelitian ini membuktikan semakin jelas informasi yang diberikan oleh petugas loket maka pasien  akan merasa puas terhadap pelayanan loket. pertanyaan pada item kedua yaitu tentang perilaku petugas loket yang menunjukan 34 (35.4%) responden menyatakan tidak puas dan 62 (64.6%) responden menyatakan puas, karena kepuasan pasien terhadap pelayanan loket sangat berkaitan dengan sikap yang sopan dan santun, oleh karena itu pasien akan merasa puas jika pelayanan petugas loket menggambarkan sikap yang disenangi oleh pasien. Pertanyaan kuesioner pada item tiga tentang kesopanan dokter/perawat menunjukan 4 (4.2%) responden menyatakan tidak puas dan 92 (95.8%) responden menyatakan puas, pada item ini merupakan item yang menyangkut perilaku dokter yang sopan akan berdampak positif terhadap kepuasan pasien. Pernyataan kuesioner pada item empat tentang petugas dalam memberikan informasi tentang obat 23 (24.0%) responden menyatakan tidak puas dan 73 (76.0%) responden menyatakan puas, pada item keempat ini mengenai kejelasan dan penjelasan petugas dalam memberikan informasi tentang obat, baik penjelasan tentang jenis, manfaat maupun waktu mengkonsumsi obat tersebut. Secara keseluruhan hasil penelitian ini menunjukan bahwa responden merasa puas dengan jaminan pelayanan yang diberikan petugas rumah sakit.
Melihat hasil penelitian tersebut peneliti berpendapat bahwa jaminan yang diberikan dalam pelayanan mengenai pemberian informasi dan perilaku petugas loket, kesopanan perilaku dokter/perawat serta kejelasan petugas dalam memberikan informasi tentang obat di Rumah Sakit Umum Daerah Undata Palu dijalankan dengan baik sehingga pasien merasa puas atau senang terhadap pelayanan karena keinginan pasien tercapai dalam mendapatkan pelayanan sesuai dengan harapan.
Mengenai jaminan sebagai salah satu aspek dimensi kualitas pelayanan  yang mempunyai hubungan dengan kepuasan telah dikemukakan oleh pasuraman dalam lupiyoadi, 2006 pada suatu studi melibatkan 800 pelanggan.
Menurut Parasuraman dalam Jasfar, 2005, untuk menentukan kualitas jasa ditentukan oleh jaminan pelayanan yang mencakup pengetahuan, kemampuan, kesopanan dan sifat dapat dipercaya oleh konsumen.
3.      Hubungan Bentuk Fisik Pelayanan Kesehatan Dengan Kepuasan Pasien
Hubungan antara bentuk fisik pelayanan dengan kepuasan pasien dengan menggunakan uji Chi-Square.
Dari tabel yang ada menunjukan terdapat hubungan antara dimensi bentuk fisik responden dengan kepuasan pasien Jamkesmas rawat inap dengan nilai p = 0,000 < 0,05. Dalam dimensi bentuk fisik diwakili 8 item pertanyaan dalam bentuk kuesioner. Kuesioner bentuk fisik pelayanan pada item pertama mengenai kerapian seragam dokter pada saat pemeriksaan menunjukan 3 (3.1%) responden menyatakan tidak puas dan 93 (96.9%) responden menyatakan puas. Hal ini harus dipertahankan oleh pihak rumah sakit khususnya para dokter dan perawat yang bertugas melakukan pemeriksaan kepada pasien agar tetap mempertahankan kerapian seragam sehingga dapat memberi kepuasan pada pasien. Pertanyaan item kedua yaitu tentang bentuk kemasan obat yang menunjukan 45 (46.9%) responden menyatakan tidak puas dan 51 (53.1%) responden menyatakan puas, hal ini perlu ditingkatkan oleh pihak rumah sakit, karena bentuk kemasan obat dapat mempengaruhi psikologi pasien, semakin baik bentuk kemasan obat maka semakin besar kemungkinan pasien merasa puas dalam mengkonsumsi obat. Pertanyaan kuesioner pada item tiga tentang ruangan periksa menunjukan 36 (37.5%) responden menyatakan tidak puas dan 60 (62.5%) responden menyatakan puas. Pernyataan kuesioner pada item keempat tentang kelengkapan alat kesehatan yang digunakan 8 (8.3%) responden menyatakan tidak puas dan 88 (91.7%) responden menyatakan puas, berdasarkan jawaban responden tentang kelengkapan alat kesehatan yang digunakan dalam pelayanan sebagian besar pasien merasa puas. Pada pertanyaan item kelima tentang kebersihan kamar mandi dan WC menunjukan 43 (44.8%) responden menyatakan tidak puas dan 53 (55.2%) responden menyatakan puas. Jika melihat selisi pernyataan responden mengenai kebersihan kamar mandi/WC tidak jauh beda artinya bahwa pihak rumah sakit harus lebih meningkatkan kebersihan kamar mandi/WC sehingga dapat memberikan kepuasan kepada pasien. Pada perntanyaan item keenam tentang keamanan tempat parker menunjukan 13 (13.5%) responden menyatakan tidak puas dan 83 (86.5%) responden menyatakan puas, hal ini menggambarkan bahwa kondisi keamanan tempat parkir di RSUD Undata Palu masih tergolong aman. Pada pertanyaan item ketujuh tentang kenyamanan ruang tunggu menunjukan 18 (18.8%) responden menyatakan tidak puas dan 78 (81.2%) responden menyatakan puas. Pada pertanyaan item kedelapan tentang kartu berobat menunjukan 4 (4.2%) responden menyatakan tidak puas dan 92 (95.8%) responden menyatakan puas. Hal ini dapat menggambarkan bahwa sebagian besar pasien merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan kepada pasien. Secara keseluruhan hasil penelitian ini menunjukan bahwa responden merasa puas dengan bentuk fisik pelayanan yang diberikan oleh petugas rumah sakit.
Melihat hasil penelitian tersebut peneliti berpendapat bahwa bentuk fisik pelayanan kesehatan yang diberikan dalam pelayanan mengenai delapan item bentuk fisik pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah Undata Palu berjalan dengan baik sehingga pasien merasa puas terhadap pelayanan karena keinginan pasien tercapai mendapatkan pelayanan sesuai dengan apa yang diharapkan.
Mengenai bentuk fisik pelayanan sebagai salah satu aspek dimensi kualitas pelayanan yang mempunyai hubungan dengan kepuasan telah dikemukakan oleh Abdul halik 2010 dalam penelitiannya yang melibatkan 100 responden, hasilnya juga menunjukan bahwa terdapat hubungan antara bentuk fisik dengan kepuasan pasien pengguna jamkesmas.
Menurut Parasuraman dalam Jasfar 2005, kualitas jasa dipengaruhi oleh bentuk fisik pelayanan yaitu tersedianya fasilitas fisik, perlengkapan dan sarana komunikasi dan lain-lain yang dapat dan harus ada dalam proses jasa.
4.      Hubungan empati pelayanan kesehatan dengan kepuasan masyarakat
Hubungan antara empati atau kepedulian pelayanan dengan kepuasan pasien dengan menggunakan uji Chi-Square.
Dari tabel yang ada menunjukan terdapat hubungan antara dimensi empati responden dengan kepuasan pasien Jamkesmas rawat inap dengan nilai p = 0,000 < 0,05. Dalam dimensi empati diwakili 3 item pertanyaan dalam bentuk kuesioner. Kuesioner empati pelayanan pada item pertama mengenai penyampaian informasi oleh dokter/perawat tentang rencana tindakan dan perawatan penyakit menunjukan 24 (25%) responden menyatakan tidak puas dan 72 (75%) responden menyatakan puas. Berdasarkan jawaban responden yang sebagian besar menyatakan puas terhadap informasi yang diberikan oleh dokter/perawat terhadap rencana tindakan perawatan, berdasarkan hal tersebut menggambarkan pelayanan rumah sakit dapat memberikan kepuasan kepada pasien.
Pertanyaan item kedua yaitu tentang tanggapan dokter/perawat terhadap keluhan pasien menunjukan 34 (35.4%) responden menyatakan tidak puas dan 62 (64.6%) responden menyatakan puas, kepedulian pelayanan sangatlah dipertahankan untuk kepuasan pasien saat menyampaikan segala keluhan sehingga petugas pelayanan dapat memberikan masukan atau tindakan lanjutan pengobatan. Pada pertanyaan item ketiga tentang perilaku petugas obat menunjukan 15 (15.6%) responden menyatakan tidak puas dan 81 (84.4%) responden menyatakan puas, hal ini dapat dikatakan bahwa pelayanan  pada item perilaku petugas obat mencapai sebagian besar responden menyatakan puas, tetapi perlu untuk ditingkatkan karena menyangkut perilaku petugas obat yang baik dapat memberikan kepuasan pada pasien. Secara keseluruhan hasil penelitian ini menunjukan bahwa responden merasa puas dengan empati atau kepedulian pelayanan yang diberikan oleh petugas rumah sakit.
Melihat hasil penelitian tersebut peneliti berpendapat bahwa empati pelayanan yang diberikan dalam pelayanan mengenai penyampaian informasi dokter/perawat, tanggapan dokter/perawat atas keluhan pasien dan perilaku petugas obat di Rumah Sakit Umum Daerah Undata Palu dijalankan dengan baik sehingga pasien pengguna jamkesmas merasa puas terhadap pelayanan.
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurul Fatimah R. Mangge (2010), Ada hubungan bermakna antara empati dengan kepuasan pasien. Dari 96 sampel, 47 responden yang menyatakan tidak puas dan 49 responden yang menyatakan puas.
Menurut Makmuri, dalam Nurul Fatimah R. Mangge, 2010 Empati yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang memberikan kepada para pasien dengan berupaya memahami keinginan pasien.
5.      Hubungan Daya Tanggap  Pelayanan Kesehatan dengan Kepuasan Pasien
Hubungan antara daya tanggap dengan kepuasan pasien dengan menggunakan uji Chi-Square.
Dari tabel yang ada menunjukan terdapat hubungan antara dimensi daya tanggap pelayanan dengan kepuasan pasien jamkesmas rawat inap dengan nilai p = 0,000 < 0,05. Dalam dimensi daya tanggap diwakili 3 item pertanyaan dalam bentuk kuesioner. Kuesioner daya tanggap pada item pertama mengenai perhatian dokter/perawat bila pasien bertanya menunjukan 14 (14.6%) responden menyatakan tidak puas dan 82 (85.4%) responden menyatakan puas. Hal ini berkaitan dengan pertanyaan item kedua tentang perhatian perawat apabila diperlukan menunjukan 25 (26.0%) responden menyatakan tidak puas dan 71 (74.0%) responden menyatakan puas. Artinya bahwa pihak rumah sakit perlu meningkatkan perhatian kepada pasien khususnya dokter/perawat agar dalam menjalankan tugas harus memberikan perhatian kepada pasien yang memerlukan atau bertanya sehingga pasien mudah menerima informasi tentang berbagai hal yang menyangkut tindakan pelayanan selanjutnya.
Semakin mudahnya informasi yang diperoleh pasien maka pasien akan merasa puas. Pada pertanyaan item ketiga tentang perhatian pelayanan resep petugas obat menunjukan 20 (20.8%) responden menyatakan tidak puas dan 76 (79.2%) responden menyatakan puas. Secara keseluruhan hasil penelitian ini menunjukan bahwa pasien pengguna jamkesmas merasa puas dengan daya tanggap pelayanan yang diberikan petugas rumah sakit dalam memberikan pelayanan.
Melihat hasil penelitian tersebut peneliti berpendapat bahwa daya tanggap pelayanan di rumah sakit mengenai ketiga item daya tanggap pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah Undata Palu dijalankan dengan baik sehingga pasien pengguna jamkesmas merasa puas karena pelayanan yang diberikan oleh petugas pelayanan kesehatan sesuai dengan harapan pasien.
Daya tanggap sebagai salah satu aspek dimensi kualitas pelayanan  yang mempunyai hubungan dengan kepuasan yang telah dikemukakan oleh pasuraman dalam lupiyoadi, 2006 pada suatu penelitian yang melibatkan 800 pelanggan.
Menurut parasuraman dalam jasfar, 2005 dalam menentukan kualitas pelayanan dipengaruhi oleh daya tanggap para staf atau tenaga pelayanan untuk membantu dan memberikan jasa yang dibutuhkan konsumen dalam hal ini adalah pasien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

RADIO

Widget By: Forantum

Amazon MP3 Clips